Linux di Server dan Cloud: Panduan Lengkap untuk Pemula
Pendahuluan
Modul ini membahas secara mendalam bagaimana Linux beroperasi sebagai sistem operasi server dan mengapa setiap provider cloud besar — AWS, Google Cloud, dan Microsoft Azure — menjadikan Linux sebagai pilihan utama untuk workload production.
Linux sebagai Server OS
Apa Itu Server?
Secara sederhana, server adalah komputer yang melayani permintaan (request) dari komputer lain (client). Saat kamu membuka website, browser-mu (client) mengirim HTTP request ke server web. Server membalas dengan HTML.
Server tidak butuh layar, keyboard, atau mouse. Yang dibutuhkan adalah:
- CPU yang kuat untuk memproses request.
- RAM yang besar untuk menangani banyak koneksi.
- Storage yang cepat (SSD/NVMe).
- Network yang stabil.
Linux sangat cocok karena:
- Ringan: Tanpa GUI, instalasi bisa selesai dalam 2-5 menit dengan footprint minimal.
- Stabil: Uptime bertahun-tahun bukan mitos.
- Aman: Model permission ketat (user, group, root separation).
Distro Linux untuk Server
| Distro | Karakteristik | | :--- | :--- | | Ubuntu Server | Mudah digunakan, update reguler, komunitas besar. Cocok untuk pemula. | | Debian | Sangat stabil, jarang update (fokus reliabilitas). Pilihan production konservatif. | | Rocky/AlmaLinux | Penerus CentOS untuk environment enterprise (RHEL-compatible). | | Amazon Linux | Distro AWS yang dioptimalkan khusus untuk EC2. |
Linux di Cloud Computing
Cloud computing mengubah cara kita meng-host aplikasi. Tidak perlu lagi membeli server fisik — cukup sewa resource dari provider seperti AWS.
Konsep Dasar Cloud
- IaaS (Infrastructure as a Service): Kamu menyewa mesin virtual (VM). Kamu install sendiri OS dan aplikasinya. Contoh: EC2 (AWS), Compute Engine (GCP).
- PaaS (Platform as a Service): Provider mengelola infrastruktur. Kamu hanya deploy kode. Contoh: Heroku, Cloud Run.
- SaaS (Software as a Service): Kamu menggunakan software yang sudah jadi. Contoh: Gmail, Slack.
Linux di IaaS
Saat kamu membuat EC2 instance:
# AWS CLI untuk launch instance
aws ec2 run-instances \
--image-id ami-0abcdef1234567890 \ # Ini AMI Ubuntu
--instance-type t3.micro \
--key-name my-ssh-key
AMI (Amazon Machine Image) adalah snapshot OS. Mayoritas AMI adalah Linux (Ubuntu, Amazon Linux, Debian).
Mengapa Cloud Provider Suka Linux?
- Lisensi: Tidak ada biaya lisensi per core seperti Windows Server.
- Customizable: Bisa strip down ke ukuran sangat kecil untuk container.
- Automation Friendly: Semua konfigurasi lewat teks bisa di-script.
Praktik: Setup Linux Server di Cloud
Langkah 1: Buat Instance (AWS EC2)
- Login ke AWS Console.
- EC2 > Launch Instance.
- Pilih AMI: Ubuntu Server 22.04 LTS.
- Instance Type: t2.micro (Free Tier eligible).
- Key Pair: Buat atau gunakan existing SSH key.
- Security Group: Buka Port 22 (SSH) dan 80 (HTTP).
- Launch!
Langkah 2: SSH ke Server
chmod 400 my-key.pem # Pastikan key tidak bisa dibaca orang lain
ssh -i my-key.pem ubuntu@<PUBLIC_IP>
Langkah 3: Install Web Server
sudo apt update
sudo apt install nginx -y
sudo systemctl start nginx
sudo systemctl enable nginx # Start on boot
Buka browser, akses http://<PUBLIC_IP>. Welcome to Nginx!
Kesimpulan
Linux adalah sistem operasi de facto untuk server dan cloud. Dari VPS murah hingga ribuan instance di AWS Auto Scaling group, semuanya berjalan di atas kernel yang sama.
Tugas Mandiri: Coba buat akun AWS Free Tier dan launch Ubuntu instance pertamamu. SSH dan install Nginx seperti tutorial di atas.